Kenali Apa Itu Noncommunicable Diseases dan Kenapa Harus Diwaspadai

Halo! Pernahkah Anda merasa khawatir dengan kondisi tubuh yang tidak fit? Banyak orang fokus pada ancaman seperti flu atau infeksi. Namun, ada jenis gangguan kesehatan yang sifatnya sangat berbeda.
Kita akan membahas tentang Penyakit Tidak Menular (PTM), atau dalam bahasa Inggris disebut Noncommunicable Diseases (NCD). Kelompok masalah kesehatan ini adalah ancaman global yang serius. Mereka bersifat kronis dan berkembang dalam jangka panjang.
Berbeda dengan penyakit menular, NCD sering kali seperti “musuh dalam selimut”. Mereka bisa berkembang diam-diam tanpa gejala yang jelas di awal. Meski namanya “tidak menular”, dampaknya pada kualitas hidup justru sangat berat.
Artikel ini dirancang sebagai panduan dasar untuk memahami PTM. Pengetahuan yang tepat adalah langkah pertama untuk melindungi diri Anda dan orang-orang terdekat.
Dampak NCD tidak hanya dirasakan secara pribadi. Masalah ini mempengaruhi keluarga, produktivitas kerja, dan bahkan pembangunan negara, termasuk di Indonesia.
Kita akan jelaskan definisi, alasan untuk selalu waspada, jenis-jenis umum, serta faktor risikonya. Jangan khawatir, semua akan diuraikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Pengetahuan ini bisa menjadi senjata Anda untuk hidup yang lebih sehat dan panjang umur.
Poin-Poin Penting
- Penyakit Tidak Menular (PTM) atau NCD adalah masalah kesehatan kronis yang berlangsung lama.
- Mereka tidak menular dari orang ke orang seperti virus atau bakteri.
- Perkembangan NCD sering kali tidak bergejala di tahap awal, sehingga berbahaya.
- Memahami PTM adalah langkah kunci pertama dalam pencegahan.
- Dampaknya luas, mempengaruhi individu, keluarga, dan beban negara.
- Pencegahan sangat mungkin dilakukan dengan gaya hidup dan pengetahuan yang tepat.
- Artikel ini akan membimbing Anda memahami dasar-dasar NCD secara menyeluruh.
Apa Itu Noncommunicable Diseases (NCD)?
Untuk melawan suatu ancaman, kita harus mengenalinya terlebih dahulu. Begitu pula dengan kelompok gangguan kesehatan ini.
Noncommunicable Diseases (NCD) adalah istilah global untuk Penyakit Tidak Menular (PTM). Kelompok conditions ini bersifat kronis, artinya berkembang dalam waktu lama dan umumnya berlangsung bertahun-tahun.
Ciri utama noncommunicable diseases adalah tidak menular antar individu. Anda tidak akan tertular penyakit jantung atau diabetes dari bersalaman dengan penderitanya.
Penyebabnya pun berbeda dari infeksi virus atau bakteri. Menurut data WHO dan Halodoc, NCD muncul dari kombinasi faktor genetik, fisiologis, lingkungan, dan perilaku.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat empat kelompok diseases ini sebagai yang paling mematikan secara global. Mari kita kenali satu per satu.
- Penyakit Kardiovaskular: Gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Ini mencakup serangan heart disease dan stroke.
- Kanker: Ditandai dengan pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali. Sel-sel ini dapat menyerang jaringan tubuh sehat di sekitarnya.
- Penyakit Pernapasan Kronis: Kondisi seperti PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) dan asma. Chronic respiratory diseases ini menghalangi aliran udara di paru-paru.
- Diabetes: Ditandai dengan kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol. Kondisi ini dapat merusak berbagai organ tubuh dalam jangka panjang.
Meski sering dikaitkan dengan usia lanjut, ancaman ncd nyata bagi semua kelompok usia. Data WHO menunjukkan banyak kematian terjadi pada usia produktif, yaitu 30 hingga 69 tahun.
Istilah seperti “penyakit jantung”, “kanker”, atau “kencing manis” mungkin sudah sangat akrab di telinga. Itulah mengapa noncommunicable diseases terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.
Karena sifatnya yang kronis, penanganan disease seperti ini seringkali berlangsung seumur hidup. Pengobatan bertujuan untuk mengendalikan gejala dan mencegah komplikasi.
Inilah alasan mengapa pencegahan sejak dini jauh lebih baik dan efektif dibandingkan pengobatan.
Perbedaannya jelas dengan penyakit menular seperti flu atau COVID-19. Penularan infeksi bisa dicegah dengan protokol kesehatan seperti mencuci tangan dan memakai masker.
Sementara pencegahan ncd bergantung pada perubahan pola hidup yang berkelanjutan.
Di Indonesia, contoh conditions dengan angka kematian tinggi tidak hanya empat jenis tadi. Gangguan mental juga masuk dalam kategori PTM yang perlu diperhatikan.
Mengenali berbagai jenis chronic respiratory dan respiratory diseases lainnya adalah langkah dasar. Pemahaman ini membuka jalan untuk mengetahui mengapa mereka harus diwaspadai dan bagaimana cara mencegahnya.
Diabetes dan kelompok noncommunicable diseases lain bukanlah takdir. Pengetahuan adalah kunci pertama untuk mengambil kendali atas kesehatan diri sendiri.
Mengapa Noncommunicable Diseases Harus Sangat Diwaspadai?

Pentingnya kewaspadaan terhadap masalah kesehatan ini terlihat dari angka-angka yang mencengangkan. Bukan hanya sekadar gangguan medis biasa, kelompok conditions ini membawa dampak yang sangat luas.
Mari kita lihat fakta dan data yang dikumpulkan oleh organisasi kesehatan global. Gambaran yang muncul jauh lebih serius dari yang banyak people bayangkan.
Angka Kematian yang Mengkhawatirkan Secara Global
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberikan data terbaru yang memprihatinkan. Pada tahun 2021, ncds menyebabkan 43 juta kematian di seluruh dunia.
Angka ini mewakili 75% dari seluruh kematian non-pandemi global. Artinya, tiga dari empat kematian yang bukan akibat wabah besar disebabkan oleh penyakit kronis.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kematian prematur. Sebanyak 18 juta people meninggal sebelum usia 70 tahun. Empat kelompok utama—jantung, kanker, pernapasan, dan diabetes—menyumbang 80% dari angka tragis ini.
Untuk membayangkan skalanya, 43 juta jiwa setara dengan populasi seluruh countries seperti Argentina atau Spanyol. Ini adalah beban kemanusiaan yang sangat besar.
Data dari Halodoc juga memperkuat tren ini. Sekitar 35 juta dari 58 juta kematian global setiap tahunnya disebabkan oleh ncds. Ini menunjukkan pola yang konsisten dan menguat.
Dampak Besar di Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah, Termasuk Indonesia
Beban disease ini tidak terdistribusi secara merata di seluruh dunia. Justru, countries dengan sumber daya terbatas menanggung konsekuensi terberat.
WHO mencatat bahwa 82% dari semua kematian prematur akibat ncds terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bahkan, 73% dari total kematian kelompok disease ini terkonsentrasi di wilayah-wilayah tersebut.
Indonesia, sebagai salah satu countries berkembang, sangat terdampak. Akses terhadap layanan health yang berkualitas, edukasi gizi, dan makanan sehat masih menjadi tantangan besar di banyak daerah.
Ironisnya, kematian akibat masalah kesehatan kronis justru meningkat di kelompok sosial ekonomi menengah ke bawah. Data Halodoc mengonfirmasi tren peningkatan kasus di kalangan ini.
Di sinilah siklus poverty dan ncds saling terkait erat. Seseorang yang hidup dalam kemiskinan memiliki risk lebih tinggi terkena penyakit kronis karena keterbatasan pilihan.
Sebaliknya, biaya pengobatan jangka panjang untuk disease seperti ini dapat dengan cepat menjerumuskan keluarga ke dalam poverty yang lebih dalam. Ini adalah lingkaran setan yang sulit diputus.
Ancaman Serius bagi Produktivitas dan Pembangunan
Dampak ncds melampaui tingkat individu dan keluarga. Masalah ini menjadi ancaman nyata bagi kemajuan bangsa.
Kematian dan kecacatan di usia produktif, yaitu 30 hingga 69 tahun, menyebabkan kerugian ekonomi yang masif. Keluarga kehilangan pencari nafkah, dan negara kehilangan tenaga kerja terampil.
Biaya perawatan yang tinggi menjadi beban finansial berat. Banyak keluarga terpaksa menjual aset atau berhutang hanya untuk berobat. Situasi ini menghambat akumulasi modal dan investasi untuk masa depan.
Dalam skala nasional, produktivitas tenaga kerja menurun. Sistem health nasional juga kewalahan menangani beban pasien kronis yang memerlukan perawatan seumur hidup.
Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengakui hal ini. Dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), ncds diidentifikasi sebagai penghambat utama kemajuan development.
Memerangi kelompok penyakit ini bukan hanya soal meningkatkan angka harapan hidup. Ini adalah investasi penting untuk stabilitas ekonomi dan kemajuan development suatu negara.
Kesadaran akan besarnya risk dan dampak ini seharusnya memotivasi semua pihak. Dari tingkat individu hingga pembuat kebijakan, tindakan pencegahan menjadi sebuah keharusan.
Mengurangi beban ncds berarti melindungi masa depan people, keluarga, dan seluruh countries seperti Indonesia dari kemerosotan kualitas hidup dan ekonomi.
Apa Saja Jenis dan Faktor Risiko NCD yang Perlu Diketahui?

Peta perjalanan menuju kesehatan yang lebih baik dimulai dengan mengenali musuh dan celah pertahanannya.
Setelah memahami betapa seriusnya dampak global NCD, kita perlu tahu secara spesifik. Kita perlu tahu bentuk-bentuknya dan apa saja yang memicu kemunculannya.
Pengetahuan ini bukan untuk menakut-nakuti. Justru, ini adalah kunci untuk membangun strategi pencegahan yang tepat sasaran.
Kebanyakan faktor risiko utama sebenarnya berada dalam kendali kita. Mari kita lihat lebih dekat.
Jenis-Jenis NCD yang Paling Mematikan
Empat kelompok besar ncds ini adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia. Mari kita bahas satu per satu dengan konteks Indonesia.
Penyakit Kardiovaskular adalah pembunuh nomor satu. Ini mencakup penyakit jantung koroner, stroke, dan aterosklerosis.
Penyebab utamanya sering kali adalah penumpukan plak di pembuluh darah. Kebiasaan merokok adalah risk factor yang sangat besar untuk heart disease ini.
Kanker ditandai dengan pertumbuhan sel ganas yang tidak terkendali. Di Indonesia, kanker payudara adalah jenis yang paling banyak ditemukan pada wanita.
Deteksi dini melalui pemeriksaan rutin sangat penting. Hal ini dapat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
Penyakit Pernapasan Kronis seperti PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) sangat terkait dengan kebiasaan merokok. Gejalanya meliputi sesak napas dan batuk kronis.
Chronic respiratory diseases ini secara perlahan merusak fungsi paru-paru.
Diabetes Mellitus ditandai dengan kadar gula darah tinggi. Ada dua tipe utama, dan keduanya dapat menyebabkan komplikasi berbahaya.
Komplikasi itu antara lain gagal ginjal, heart disease, serta kerusakan saraf. Gangguan mental juga termasuk dalam kategori ncd yang sering terabaikan.
Depresi dan kecemasan kronis dapat mempengaruhi kualitas hidup secara mendalam. Informasi lebih lengkap tentang klasifikasi ini dapat ditemukan dalam buku panduan epidemiologi PTM.
Faktor Risiko Perilaku yang Bisa Dikendalikan
Inilah inti dari pencegahan. Menurut WHO, ada empat faktor risiko perilaku utama yang bisa kita ubah.
Kita memiliki kendali penuh atas pilihan-pilihan ini dalam kehidupan sehari-hari.
1. Penggunaan Tembakau (Tobacco Use)
Merokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif, adalah risk factor tunggal terbesar. Asap rokok merusak pembuluh darah dan memicu cancer.
2. Diet Tidak Sehat
Konsumsi garam, gula, dan lemak jenuh yang berlebihan sangat berbahya. Kurangnya asupan buah dan sayur juga memperburuk conditions ini.
3. Kurang Aktivitas Fisik
Gaya hidup malas gerak atau sedentary memperlambat metabolisme. Tubuh menjadi kurang efisien dalam mengolah gula dan lemak.
4. Penggunaan Alkohol Berbahaya
Konsumsi alcohol berlebihan merusak hati dan meningkatkan tekanan darah. Use yang tidak bertanggung jawab ini juga berkontribusi pada obesitas.
Keempat factors perilaku ini adalah pintu gerbang menuju berbagai disease kronis. Mengubahnya adalah investasi kesehatan terbaik.
| Kategori Faktor Risiko | Contoh | Dampak Utama pada Tubuh | Tingkat Kendali |
|---|---|---|---|
| Perilaku (Dapat Dikendalikan) | Merokok, Pola Makan Buruk, Malas Gerak, Konsumsi Alkohol Berat | Memicu peradangan, kerusakan pembuluh darah, penumpukan lemak, peningkatan gula darah. | Sangat Tinggi |
| Metabolik (Seringkali Akibat Perilaku) | Hipertensi, Obesitas, Gula Darah Tinggi, Kolesterol Tinggi | Langsung merusak organ target: heart, ginjal, mata, pembuluh darah (stroke). | Tinggi (dengan pengobatan & perubahan gaya hidup) |
| Lingkungan | Polusi air (udara) dalam/luar ruangan | Mengiritasi saluran pernapasan, memicu chronic respiratory diseases dan memperburuk heart disease. | Sedang (dapat dikurangi dengan proteksi) |
| Tidak Dapat Dikendalikan | Usia, Riwayat Genetik/Keturunan | Meningkatkan kerentanan, tetapi bukan penentu mutlak. Gaya hidup tetap berperan besar. | Rendah |
Faktor Risiko Metabolik dan Lingkungan
Faktor perilaku tadi, jika berlangsung lama, akan memicu perubahan dalam tubuh. Perubahan ini disebut faktor risiko metabolik.
Faktor risiko metabolik ini meliputi tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan, dan kadar gula darah tinggi (diabetes).
Kadar lemak darah abnormal (kolesterol) juga termasuk. Factors inilah yang kemudian secara langsung merusak organ-organ vital kita.
Mereka adalah penghubung antara pilihan gaya hidup dan kerusakan organ.
Di sisi lain, faktor risiko lingkungan juga punya peran besar. Air pollution atau polusi udara adalah pemicu utama.
Polusi udara, baik di dalam maupun luar ruangan, menyebabkan sekitar 5.6 juta kematian terkait ncds setiap tahunnya.
Asap kendaraan dan industri mengiritasi paru-paru dan masuk ke aliran darah. Hal ini memperberat beban chronic respiratory diseases dan penyakit jantung.
Ada juga factors yang tidak bisa kita kendalikan, seperti usia dan keturunan. Memiliki riwayat keluarga dengan diabetes atau cancer meningkatkan risk.
Namun, fokus kita harus tetap pada faktor risiko yang bisa diubah. Dengan mengendalikan perilaku, kita dapat mencegah atau menunda munculnya faktor metabolik.
Kita juga dapat meminimalkan paparan lingkungan yang berbahaya. Pemahaman ini memberdayakan kita untuk mengambil alih kendali kesehatan.
Kesimpulan: Langkah Awal untuk Mencegah dan Mengendalikan NCD
1.
➡️ Baca Juga: Cara membuat video jedag-jedug: Tutorial Lengkap
➡️ Baca Juga: Cara Menjadi Guru Privat: Tips dan Panduan Terbaik




